was posted at 00.22 with 0 comments
Pertama, gue mau nanya. Pernah ga sih lo tiba-tiba terbangun, semacam buka mata-kaget-dan kantuk pun hilang entah kemana?
Pagi ini, itu yang gue alami. Entah karena malamnya kebanyakan belajar matematika atau karena waktu gue baru mulai tidur ayam udah siap-siap berkokok, pagi ini gue kesiangan. Gue mimpi apa ya? Entahlah. Seperti biasa, semacam mimpi yang mempunyai alur cerita. Saking asiknya, gue sampai ga mau bangun.
Tadi malam emang hujan deras. Banget. Ditambah dengan kilat dan petir yang balapan keras-kerasan. Waktu gue lagi baca-baca buku catatan matematika (karena besoknya gue ada susulan matematika), *tep!* yah.. mati lampu.
Gue fikir listrik memang dipadamkan dari pabrik, karena kalau hujan petir seperti ini biasanya pabrik PKT memadamkan listrik. Kalau memang udah parah. Kebetulan malam itu petirnya lagi goyang dangdut banget lah pokoknya. Jeb ajeb ajeb. Disaat seperti itu, badan gue mematung. Gelap gulita. Dengan ala ala orang buta, gue berusaha meraba-raba sampai ke ruang tamu tempat senter diletakkan. Oke, akhirnya senter ditangan.
Kakak Cin mana sih?? Samar-samar gue dengar suara cekikikan. Kalau mikir itu adalah hantu, sumpah ya, hantu mana yang muncul terlalu cepat dalam 5 menit dari mulai mati lampu. Tapi bisa aja sih. Hiiii. Tapi semua khayalan itu hancur saat mengetahui kalau kakak gue ternyata lagi asik telfonan aja gituloooohhh di dalam kamar.
"Kak Cin!!!! Mati lampu tuloh!"
"Iya iya dek, ntar ya. Ntar."
Hah? Udah itu aja? Sum. Pah. Gue sempet emosi. Ini mati lampu dan dia ga bergerak sedikitpun dari kamar. Fine. Gue masuk kamar, dengan penerangan lampu LED jam digital dan senter, gue siap-siap tidur. Di samping gue udah ada remote AC dan kipas. In case kalau lampu tiba-tiba nyala dan kalau gue kepanasan.
Ga lama, akhirnya kakak Cin keluar kamar. Dia nyalain lilin, dan masuk ke kamar gue buat narok lilin itu. Lampu emergency memang segalanya dalam keadaan seperti ini. Tapi punya gue rusak. Cucok banar lah pokoknya. Saat gue baru mulai memejamkan mata, *nnng...* suara listrik nyala. Dari luar kamar terdengar suara ketawa kakak gue yang memenuhi isi rumah. "Dek! Hahahahah. Tau gak, ternyata ini cuma jeglek tau, ga mati lampu. Hahahaha!". Katanya, dia liat keluar dan rumah tetangga pada terang semua. Terus cuma rumah gue aja gitu yang gelap gulita dan kita udah nyalain lilin di dalam rumah. Ha. Ha. Ha. Garing lu. Kalau aja dari awal dia udah cek kotak listrik di dapur buat mastiin kalau ini memang benar-benar mati lampu. Atau lebih sederhananya lagi, ngintip deh keluar rumah. Ini yang bodoh siapa juga gue bingung. Kayaknya sih kita berdua emang sama sama bodoh.
...paginya
DEG. Gue buka mata. Melotot. Gue liat jam tangan.
JAM 7 KURANG 10.
Gue loncat dari tempat tidur. I mean, ini benar-benar loncat dan mengibaskan selimut gue. Hosh. Hosh. Saking paniknya, gue ga tau harus ngapain. Gue berdiri mematung di tengah-tengah kamar. Oke, first step, gue ambil handuk yang tergantung di pintu kamar dan lari ke kamar mandi. Jurus mandi 3 menit gue kayaknya udah ga bekerja lagi sekarang. Gue harus pastikan badan gue benar-benar bersih dan wangi. Gue mandi selama 5 menit, yang artinya kurang 5 menit lagi menuju jam 7. "Kak Cin, cepet panasin mobiiiiil!!". Karena pagi ini hujan masih belum juga reda, gue terpaksa berangkat sekolah dengan diantar.
Set set set. Gue masukin buku-buku ke dalam tas dan tepat pukul 7 gue ada di dalam mobil dengan sisir, Nyam-Nyam, dan tugas biologi dalam genggaman tangan gue. Dalam situasi diburu waktu, lebih tepatnya diburu waktu BANGET, kakak gue nyetirnya kayak mau pergi bertamsya di cuaca yang cerah dengan burung-burung berkicauan. Santaaaaaaai banget. Good job, sist.
Sampai sekolah. Oh thanks Jesus, ternyata gerbang belum di tutup. Memang dalam keadaan hujan begini, gerbang sekolah memang ditutup lebih telat dari yang seharusnya. Semacam toleransi gitu lah. Akhirnya, gue sampai di sekolah, dan masuk kelas. Astaga.. ternyata masih banyak yang belum datang. Tau gini gue bisa minum susu dulu dirumah. Saat itu, muka gue muka bantal banget. Mata bengkak bangun tidur. Ya iyalah, persiapan 10 menit untuk ke sekolah ga cukup untuk menghilangkan muka bantal gue waktu bangun tidur.
Baru aja gue heboh mau cerita tentang kesiangan gue pagi ini, omongan gue dipotong dengan ucapan, "Bapaknya Wildan meninggal.." Deg. Gue speechless. Banget. Wildan, teman sekelas gue. Baru aja kemarin dia di sindir oleh sensei Mefa tentang orangtua, karena dia ga ngerjain tugas. Pagi ini, kita dengar kabar kalau papahnya meninggal. Usia orang memang ga ada yang bisa menebak. Gue cuma berdoa supaya orangtua gue selalu disertai Tuhan Yesus di sepanjang hidup mereka.
Wildan, turut berduka cita buat kamu sekeluarga..
Pagi itu, wali kelas gue langsung ngurusin kepergian anak-anak X4 untuk melayat. Kita pun pergi ke rumah sakit. Di sana sudah ramai oleh karyawan-karwayan PKT, tetangga, dan kerabat-kerabat keluarganya. Termasuk kita, anak-anak berseragam batik YPK yang datang dengan bis untuk melayat.
Finally, hari ini gue akhiri dengan posting di blog ini sambil nonton Indonesian Idol. *anti klimaks*
Wildan, u have to be strong!! Yow, aha!




