Spread the Words
What a Day!
was posted at 14.18 with 0 comments
What a day nya bukan hari ini sih, what a day nya kemarin.

Kemarin itu ada dua momen yang gue lewati. Tapi gue ga sempat posting karena gue capek ganas. Yang pertama tentang job Duwis, dan yang kedua tentang kenaikan kelas dan penjurusan.

Kita mulai dari yang pertama dulu ye cint. Jadi, kemaren itu gue ada job Duwis. Kita ber-10 (5 cewek 5 cowok) kerja di acara super resmi dengan dihadiri orang-orang penting. Acara peresmian pabrik KNI (Kaltim Nitrat Indonesia) dengan dihadiri Mentri Pertahan RI. Kewl!

Singkat cerita, setelah 2 hari yang lalu kita melaksanakan gladi bersih di dalam pabrik KNI, kemaren acara pun dilaksanakan. Kalian mungkin bingung, gimana rupanya acara di dalam pabrik itu. Dimana-mana pabrik pasti penuh dengan mesin di sisi kiri atau kanan jalan. Sama, gue juga sempat bingung sih. Ternyata, di dalam pabrik itu ada beberapa tenda besar berwarna putih, yang biasa dipakai untuk backstage artis atau semacam acara outdoor tapi bisa pakai AC gitu. Percaya atau tidak, gue aja juga ga nyangka, kalau di dalam tenda itu disulap seperti ruangan di dalam sebuah gedung. ACnya ada 21 (sempet banget gue hitung hahah) dan dengan hiasan mawar-mawar asli, kursi-kursi berlapis kain putih dengan pita merah, dan camera yang bisa diterbangkan dengan alat yang tinggi. Entahlah apa namanya, katrok banget gue. Pokoknya bagus banget.

Jadi, hari itu jam 4 subuh, gue pergi ke salon Exell untuk makeup. Jam 4 subuh itu saat-saat terenak untuk tidur sampai siang. Kalau untuk gue, jam 4 subuh itu gue baru mulai mimpi, siangnya baru gue bangun.
Sesampainya di salon, gue jadi orang paling pertama datang. Emang dasar kampretos ni anak-anak datangnya lama. Jadilah gue yang paling pertama ditangani. Pertama, rambut duluan. Saat rambut gue lagi disanggul, teman-teman yang lain mulai berdatangan.

Yang harus gue pelajari dari hal ini, jadi yang paling pertama datang ke salon itu tidak selamanya baik. Kenapa? Gue tau ini setelah apa yang mbak salon perbuat pada muka gue. Make up gue........ miris. Lebih jelek dari topeng. Muka gue kayak habis di bakar, trus gosong, udah deh jadi. Sedangkan make up yang lain, yang ditangani mbak yang berbeda gue, make up nya bagus dan natural. HAHAHA. Nangis dalam hati aja deh. Udah gue pesek gini, paling pendek diantara yang lain, muka nya dibuat kayak topeng, untuk acara resmi pulak. Cukup tau ya, gue ga mau make up di Exell lagi. Eh, i mean ga mau sama mbak itu lagi.

Jam 7, kita berangkat ke Hotel Equator karena kita harus berkumpul disana sebelum nantinya akan dibawa ke pabrik dengan bus. Sampai di Hotel Equator, udah ada anak-anak cowoknya disana. Ada Christian, Kak Trendy, Agung, dan setelah itu menyusul Taufiq dan Ekhi. Mereka kayak ga berani komentar gitu sama muka gue. Saking jeleknya. Gue sibuk naburin bedak tabur ke pipi gue yang dibuat gosong sama mbak salon. Itu aja udah di touch-up untuk menutupi yang gosong, gimana kalau belum? Mungkin orang-orang bakal ngira gue mamot liar.

Akhirnya kita sampai di pabrik, kita langsung menuju meja di pintu masuk. Tugas kita dibagi menjadi beberapa bagian. Gue, Medina, dan Laura, bertugas untuk melakukan registrasi pada tamu-tamu yang datang dan yang tercatat di guest list. Awalnya, tamu-tamu belum banyak yang berdatangan. Kita terus berdiri dengan heels di kaki kita. Tanpa duduk. Itu belum mulai loh acaranya, tapi rasanya gue udah mau copot kaki aja biar lega. Agak siangan, tamu-tamu berdatangan sedikit demi sedikit. Dari perusahaan ini, perusahaan itu, Dirut ini, Dirut itu, GM ini, GM itu, bule dari sini, bule dari situ. Sampai saat rombongan Gubernur, Walikota, dan Mentri mau datang, kita ber-10 pun siap di pintu masuk untuk menyambut kedatangan mereka.

Senyum. Senyum. Gue berusaha sekalem mungkin waktu rombongan Mentri masuk. Oke, selesai. Di tengah acara, gue, mbak Citra, Medina, dan Maria bertugas membawakan baki untuk pemasangan helm. Sedangkan Laura, dan Kak Trendy, bertugas membawakan baki untuk penandatanganan peresmian pabrik KNI. Belum aja saatnya kita maju buat bawa baki, tapi kita udah disuruh berdiri berbaris sambil memegang baki. Berdiri, menunggu Gubernur dan Mentri memberikan pidato. Kalo lo pikir kaki kita ga sakit waktu itu, mending makan sepatu aja deh lo. Sakit banget coy.

Tiba saatnya kita membawakan baki ke depan, kitapun berjalan di red carpet menuju ke atas panggung. Berbaris seperti yang kita lakukan saat gladi bersih.

Gue bawa baki untuk Pak Mentri. Suatu kehormatan bisa membawakan baki untuk pemasangan helm oleh Mentri Pertahanan RI. Akhirnya gue bisa liat dari jarak dekat. Haha!
Jepret. Jepret. Gue ga ngerti deh posisi gue ini menghalangi media untuk mengambil foto atau enggak, gue cuma harus berdiri sedikit di belakang Pak Mentri sesuai yang diajarkan.

Setelah selesai, gue kembali turun panggung, berjalan di atas red carpet menuju belakang. Di saat saat inilah kemampuan berjalan dengan heels dibuktikan. Kalo aja gue jebret, jatoh gitu di tengah tengah para tamu undangan, tamatlah kehidupan Ellen Restriana.

Serangkaian acara udah kita lewati sampai akhirnya kita kembali ke Hotel Equator. Sebelumnya gue foto bareng soulmate gue dulu si Ekhi. Entah kenapa saat job Duwis gue suka dipasangkan sama Ekhi. Haha!

Gede amet ya pala gue

Udah selesai? Belum ternyata. Padahal gue udah lega duluan. Udah melepas heels yang rasanya kayak lagi menggigit kaki gue ini. Sampai akhirnya ada bapak" yang datang, dan memberitahu tugas kita selanjutnya. Ada lagi? Harus berdiri lagi? Oh God.

Jadi tugas kita kali ini adalah untuk menyambut para tamu undangan untuk jamuan makan siang. Kita harus menempatkan mereka di meja-meja bernomor sesuai dimeja mana seharusnya mereka duduk. Dimeja 1 diisi Pak Mentri, Pak Gubernur, Pak Walikota, Pak Presiden Direktur KNI, Pak ini, dan Pak yang lainnya. Di meja-meja lain diisi tamu lainnya. Kita juga harus berdiri menunggu tamu lainnya yang belum datang. Berdiri dan berdiri. Dalam kondiri kaki gue yang sekarat karena heels. Di saat-saat seperti ini,  gue bukan mau copot kaki lagi. Tapi emang udah copot sendiri kali kaki gue.

Akhirnya, semua tamu sudah datang dan sudah makan. Kita pun para Duwis dipersilahkan untuk makan di Coffe Shop, dan sekembalinya dari Coffe Shop, kita makan lagi di tempat para tamu makan tadi. Double gitudeh. Azek. Kita duduk-duduk sebentar disana. Melepas lelah. Tamu-tamu sudah pada kembali. Yang gue liat disitu cuma para panitia, dan Dirut PKT yang lagi minum teh. Ada kamera yang merekam aktifitasnya. Kasian ya jadi orang penting, lagi minum aja pake di poto-poto.

Selesaaaaaaaaaai. Kita pun kembali setelah sebelumnya diajak foto-foto sama panitia. Gue diantar pulang sama Laura. Sesampainya dirumah, kaki gue udah ga ada. Mungkin nyecer di teras rumah waktu gue masuk tadi. Engga ding. Okeeee cerita pertama selesai.

Cerita kedua? Singkat aja. Jadi.. di hari gue aja job Duwis, di hari itu pula saat pengambilan rapot. Artinya? Penjurusan oh penjurusan......

Di tengah gue lagi menjaga meja registrasi, gue iseng buka hape. Padahal kita ga dibolehin pegang hape selama kerja. Entah kenapa waktu lagi ga dibolehin pegang hape, SMS SMS malah berdatangan masuk ke hape gue. Salah satunya sms nyasar dari.... ehem. Yak, gue buka hape. Ada sms dari mamah yang bertuliskan: 

"Selamat ya dek naik kelas 2 dpt jurusan IPA lho"

Deg. IPA? Haha....... Ketawa garing. Gue ga nyangka dapat jurusan IPA setelah sebelumnya gue desperate sama keadaan sumatif gue terutama untuk sumatif Biologi. Gue udah harap-harap masuk IPS. Gue udah kira gue bakal masuk IPS. Ternyata gagal. Gue. Terjebak. Di. IPA. Kenapa? Karena kalau gue udah masuk IPA, mamah pasti ga bolehin gue untuk pindah jurusan IPS. Entahlah apa perasaan gue saat liat SMS dari mamah. Kesana kemari. Senang karena udah wujudin kemauan mamah, tapi kecewa karen ga bisa masuk IPS.

Yah tapi, selama gue masih belum menentukan masa depan dan cita-cita gue, jalan apapun gue coba jalani aja. Semacam mengikuti-alur-menuju-masa depan gitudeh. Tsahhhh hahahah. Okedeh, jadi sekarang gue anak IPA, dan terpisah dari teman-teman lain yang ada di jurusan IPS :'

Ellen, sumanget ya...... *nari hula hula*