was posted at 13.48 with 0 comments
GALAU.
Hari ini, 1 Agustus 2013, tepatnya satu tahun kepindahan gue. Waktu berjalan
begitu cepat, sangat cepat, cepat bingidh pokoknya, sampai-sampai hingga
sekarang gue masih belum berani melihat rumah lama gue. Alasannya? Takut
kangen.
Hal
ini juga bisa diterapkan untuk para mantan-mantan yang masih susah move on.
Kalau ingin bisa melupakan, jangan di
kunjungin kenangan lamanya. *eaaaa
Bedanya
cuma di subject. Kalian pada manusia, dan gue pada rumah. Bukannya gue ga
pernah melewati masa-masa galau manusia (galau manusia?), tapi percayalah.
Seiring kalian tidak melihat ke belakang dan tidak melihat kembali kenangan
lama, niscaya dengan berjalannya waktu, entah akan memakan waktu berapa lama,
akan datang saat dimana kalian tidak merasakan sakit dan rasa yang sama pada
kenangan yang tidak berani kalian lihat lagi.
Sama
seperti halnya gue, mungkin masih butuh waktu untuk gue bisa kuat tahan banting
tahan nangis, melihat lagi keadaan rumah, kenampakan rumah, dan suasana rumah
lama gue. Sekali lagi, semua butuh waktu.
Abis
nulis kalimat terakhir tadi kayanya gue langsung otw bikin novel galau. Dan
tolong tampar gue karena gue dengan tanpa sadar memasukan kata ‘niscaya’ disana. Ini mau nge-blog apa
iklan pengobatan alternatif?
Tapi
emang benar, gue sampai bingung. Kenangan apa yang gue tinggalkan di rumah PC
itu hingga dalam kurun waktu satu tahun belum cukup untuk menguatkan gue
melihat rumah lama gue dengan santai dan berpikir, “Wah, rumahku udah jadi
hutan hujan tropis ya. Rumput liar dimana-mana.”
Kalau
aja gue beneran ngelakuin itu, I mean iseng melihat rumah lama gue, kayanya
disana gue bakal nangis cacing. Gimana gue melihat jendela kamar gue, garasi
tempat gue markir motor tiap hari sepulang sekolah, pohon daun salem tempat
Mamah gue biasa nyuruh gue metik buat dia masak. Sampai spot kecil tempat gue biasa ngubek-ngubek tanah buat main masak-masakan. Semuanya. Every simple thing I
used to do.
Kadang,
saat sedang di jalanan PC, pacar dengan anjirnya mancing-mancing mau belok ke
arah rumah lama gue. Dan untuk menangkal segala macam kemungkinan kalau dia
beneran belok ke arah rumah lama, gue bilang kalau gue akan tutup mata daripada
harus melihat rumah-hutan-hujan-tropis
itu. Atau, gue mengeluarkan suara sok nangis seperti anak kecil (atau lebih
mirip hantu nangis) yang mukanya tertampar oleh ekor gajah dewasa. Udeh, gitu
aja perihal satu-tahunan-pindah-rumah
gue.
Pindah
rumah yang menimbulkan banyak kerugian. Selain sampai sekarang gue belum punya
internet dirumah (again, gue sampai bosan dan kalian juga pasti sampai mimisan
membahas hal ini), keluarga gue juga harus mengurus pengubahan Kecamatan dan
Kelurahan baru sesuai tempat gue tinggal sekarang.
DAAAAN,
karena hal itu juga sampai sekarang, setelah ulang tahun ke 17 gue pada 22 Juni
kemarin, GUE BELUM BISA BIKIN SIM KTP.
Ini menyakitkan bagaimana hal utama yang paling diwanti-wanti saat seorang
remaja cantik dan belia seperti gue genap berusia 17 tahun dan dompetnya haus akan tambahan kartu bernama
SIM & KTP, harus menunda semuanya karena urusan kepindahan rumah belum
clear semua :’(
Mamah
gue bilang (dengan sedikit emosi jiwa dan raga karena gue ngotot minta bikin
SIM) kalau kita harus menunggu anggota keluarga lengkap semua di Bontang,
supaya Ayahanda Baginda Raja bisa secepatnya mengurus perubahan pada Kartu Keluarga kita.
Nah, supaya ga buang-buang tenaga ngurus dua kali, sekalian aja gue yang
berkorban menunda bikin SIM KTP biar sekalian di SIM KTP gue nanti udah pakai
alamat rumah baru. Sedih, alamat rumah baru ya? Iya.
Udah
ye, gue mau nonton drama korea dulu. Entah liburan macam apa ini sampai
lagi-lagi gue membusuk ga ada kerjaan di dalam kamar. Dadah semuanya! *ngulet-ngulet pewek*




